Beberapa remaja wanita dan pria sering terlihat di pinggir jalanan. Dandanannya dapat dikatakan aneh atau nyeleneh, rambut mohawk berwarna, pakaian serba hitam dengan rompi jens lecek memakai hiasan spike, sepatu boots, dan hiasan piercing tersebar di wajah. Sesekali mereka berhenti di pojok toko, mengamen di lampu lintas hingga angkutan umum, atau berkumpul bercengkrama di pinggiran jalan. Ya, itulah mereka, kaum minoritas yang tersisihkan, mereka adalah komunitas Punk.
Mendengar kata Punk, mungkin sebagian orang akan risih membayangkan kumpulan anak muda tanpa aturan, berantakan, dan berandalan. Pandangan ini disebabkan sebagian masyarakat melihat komunitas punk lewat dari gaya dandanan dan gaya mereka. Terlalu menghakimi bila kita menilai anak punk dengan pandangan negatif. Bagaimanapun mereka merupakan bagian dari kita, bagian dari masyarakat. Sebagai manusia, anak Punk pun memiliki sifat postif. Kebersamaan, setia kawan, saling berbagi, dan kekeluargaan. Terlalu dini bila kita menghakimi anak Punk dengan nilai-nilai negatif yang belum tentu benar.
Hal itulah yang ingin ditunjukan oleh sebuah komunitas Punk bernama Punklung. Punklung merupakan sebuah komunitas punk yang memiliki tujuan untuk melestarikan budaya daerah, khususnya Jawa Barat. “Sebenarnya dibentuknya Punklung bukan dari sebuah ide, tetapi satu bentuk kekhawatiran terhadap keadaan sekarang. Situasi sekarang itu, anak-anak muda sudah mulai meninggalkan budaya-budaya yang ada, nah kami punya tanggung jawab moral untuk membangun kembali budaya lokal,”ujar Abah, salah satu pentolan Punklung.
Dalam mencapai tujuannya, komunitas Punk ini menggunakan akulturasi budaya Punk dan budaya Sunda dalam pertunjukan. Selain dari aliran musik Punk dengan beat yang cepat dan menghentak, Punklung pun membawakan lagu-lagu bertema sosial dan politik untuk memperlihatkan budaya punk kepada masyarakat luas.
Melihat sejarah Punk, saat terjadi masalah ekonomi di Amerika yang disebabkan oleh kebobrokan moral tokoh politik, Punk menyuarakan dan menyindir pemilik kekuasaan dengan lagu sederhana dan tidak jarang dengan lirik yang kasar. Idealisme dalam membela rakyat kecil, itulah yang mendasari Punklung untuk membuat lagu-lagu bertemakan sosial dan politik.“Punklung membawakan lagu bertemakan sosial dan budaya, contohnya Punklung pernah membawakan lagu tentang buruh tani, dan sebagainya, pokona mah membawakan lagu yang mewakili masyarakat,” ujar Abah.
Punklung bisa dikatakan sebuah campuran antara modern dan tradisional. Modern bisa dilihat dari aliran dan idealisme musik punk seperti yang dijelaskan sebelumnya, sedangkan campuran tradisional terlihat dari alat musik yang digunakan yaitu calung. “Calung hanya alat atau media komunikasi saja, selain itu anak-anak Punklung cocoknya memainkan calung dibandingkan waditra lain,” ujar Abah ketika ditanya mengapa calung yang dipilih.
Abah menambahkan bahwa kultur Punk dan Sunda bisa berjalan seiringan dengan menggunakan calung. Selain itu penggunaan calung merupakan salah satu symbol perlawanan terhadap globalisasi. Hal ini bukan berarti tidak diperbolehkan mempelajari alat musik modern, hanya saja alat musik yang lama dan menjadi ciri khas budaya lokal perlu terus dipelajari dan dilestarikan.
Oleh: Aris Darussalam/Jurnalistik/A/2012/UINSGDBandung.







0 komentar :
Posting Komentar