Sebuah garasi kecil yang terletak pada warnet di daerah Parakan Muncang, Cicalengka, tampak ramai sore itu. Sebuah komunitas anak Punk bergerombol memainkan alat musik tradisional bernama calung dan galung. Menyanyikan lagu-lagu berlirik kritik sosial yang menurut mereka adalah satu gerakan lewat lagu untuk mengubah kehidupan yang semakin mengancam.
Terancam kehilangan akan kesenian yang mendarah daging. Tak hanya sekedar main-main, namun komunitas punk yang memainkan calung ini sudah mulai merambah dunia seni yang semakin terkenal. Komunitas mereka disebut dengan punklung. Motivasi dan keinginan mereka untuk terus mengharumkan budaya daerah mereka sangatlah kuat.
Melekat dengan sebutan punk yang notabene dekat dengan anarkis dan urakan, mereka tak malu-malu untuk berpikir untuk melakukan perubahan dengan menggabungkan dua budaya sekaligus, yaitu budaya barat Punk dan budaya sunda. Mulai tahun 1997 komunitas ini berdiri dan terbentuk, namun konsistensi mereka untuk melambungkan nama komunitas ini dimulai pada tahun 1999. “Apa kata dunia komunitas anak punk bermain alat musik sunda?” Ujar Kopral, yang semapat menjadi vokalis pentolan komunitas punk ini disela-sela obrolan.
Teringat film Last Samurai “buat apa kita punya budaya orang lain sedangkan budaya sendiri tidak diangkat”. Akhirnya pencetus komunitas ini melakukan akulturasi dari ideologi punk dan ideologi lokal, sambung abah Efi yang juga merupakan anggota komunitas Punklung sambil mematik rokok yang ia pegang.
Di luar otak dan pikiran kita tentang Punk dan Calung ini agaknya sedikit melenceng dan diluar dugaan. Tahap demi tahap mereka lalui untuk mendapatkan perhatian masyakarat. Pro kontra mereka lewati. Masyarakat sekitar banyak yang tidak setuju, hanya dengan alasan mereka yang berasal dari kumpulan “anak-anak nakal”. Namun lambat laun, masyarakat pun luluh dengan kehadiran dan keinginan mereka yang ingin mempertahankan budaya daerah ini.
Hanya dengan alat musik seadanya dan tempat latihan yang sempit dan bisa dibilang kurang layak ini, kegigihan mereka dipertahankan dengan susah payah hingga komunitas ini pun kini sudah mencapai generasi yang ketiga. Bergantian mereka berbicara soal kepedulian anak punk terhadap budaya mereka. “Don’t judge a book by it’s cover” kata Uwan yang juga salah satu anak punk yang masih peduli dengan alat musik yang hampir hilang generasi ini.
Hari semakin sore, latihan semakin asik terlihat di mata. Keseriusan mereka akan apa yang mereka lakukan semakin terlihat. Galung dan Calung dimainkan secara bersahut-sahutan. Kopral sebagai vokalis menyanyikan lirik-lirik kritis sosial semakin terdengar renyah di telinga. Mereka peka dengan isu-isu sosial dan politik yang tengah beredar sehingga mereka tidak mudah percaya dengan kepemerintahan yang ada. Lewat lirik kritis sosial inilah komunitas punklung menyuarakan ketidakpuasaan mereka terhadap pemerintah.
-Darah Juang-
Disini Negeri kami, tempat padi terhampar
Samuderanya.. kaya raya
Negeri kami subur Tuhan….
Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak buruh tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Reff:
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Tuk bebaskan rakyat
Padamu kami berjanji
Padamu kami berbakti
Begitu kiranya lirik kritik sosial yang dinyanyikan sekelompok anak muda ini. Rambut gimbal dan badan yang kurang terawat khas anak punk ini yang menandakan anak-anak urakan seakan hilang begitu saja saat mereka memainkan alat musik calung dan galung tersebut dengan pandai dan lincah. Mata saya pun tak henti-hentinya melihat kepiawaian mereka dalam memainkan alat musik tradisional itu. Senyum lebar dan tawa menyeringai di wajah mereka, suara candaan bergema di garasi yang hanya tidak lebih berukuran 4 x 5 meter ini.
KOMUNITAS PUNKLUNG : Bermusik Sebagai Kritik Sosial (bagian 2)
Posted by CB Blogger
Blog,
Updated at:
22.20






0 komentar :
Posting Komentar